Tepat setelah
pukul 00.00 WIB dini hari, harga BBM di naikkan. Maka hal ini tidak kita
pungkiri juga memberatkan diri kita dari sisi naiknya harga – harga
barang lainnya yang biasanya mengikuti kenaikan BBM. Namun, sebagian
manusia keliru dalam mengekspresikan keadaan ini. Demo, mencela
pemerintah, dan hal – hal yang tidak sesuai syar’ipun gencar dilakukan.
Adapun
bagi kita, tidak selayaknya bagi kita untuk mengikuti hal – hal yang
sifatnya demikian. Ada beberapa renungan yang perlu kita perhatikan
agar kita bisa berlapang dada dan bijak untuk menyikapi fenomena
kenaikan BBM ini.
PERTAMA, adalah hadits Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam yang
artinya : “Saya memberi wasiat kepada kalian agar tetap bertaqwa kepada
Allah ‘Azza wa Jalla, tetap mendengar dan ta’at walaupun yang memerintah
kalian seorang hamba sahaya (budak) dari Habasyah” (HR. Abu Daud dan
Tirmidzi )
Sejelek dan sepahit apapun intruksi dan keputusan
pemerintah, kita wajib patuh selama itu bukan dalam kemaksiatan.Inilah
prinsip Ahlus Sunnah Wal Jamaah.
KEDUA, adalah hadits Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam yang
artinya :
”Dengarlah dan taat kepada pemimpinmu, walaupun mereka menyiksa
punggungmu dan mengambil hartamu. Tetaplah mendengar dan taat kepada
mereka” (HR. Muslim no. 1847).
Dari hadits ini,kita bisa merenungi
bahwa sepahit apapun keputusan kenaikan BBM itu, pemerintah tidak
sampai menyiksa dan merampas harta kita. Yang terjadi hanyalah mereka
mengambil kembali keringanan yang sudah mereka berikan betahun tahun
untuk kita nikmati, yaitu subsidi.Mengapa kita harus marah pada
mereka?
KETIGA, firman Allah Azza Wa Jalla yang berbunyi :
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS. Alam Nasyroh: 5).
Faedah
merenungi ayat ini adalah bahwa setelah kesulitan kenaikan harga BBM
dan segala imbasnya ini pasti akan diiringi oleh kemudahan dari Allah
Yang Maha Memberi Rizki. Mungkin gaji akan naik, mungkin omzet usaha
akan bertambah, dan kemungkinan yang lainnya.Dan ini sudah kita alami ,
karena BBM bukan kali ini saja naik.Toh, naik berapapun kita masih mampu
membelinya selama ini.
KEEMPAT, ucapan Al Hasan Al Bashri rahimahullah :
“Aku telah membaca di 90 tempat (90 kali disebutkan) di dalam al Quran,
bahwa sesungguhnya Allah telah mentakdirkan rizki dan menjamin rizki itu
untuk makhlukNya, dan aku membaca (hanya) pada satu tempat “syaitan
menakut-nakutimu akan kefakiran” , lantas apa kita ragu terhadap
perkataan Yang Maha Benar di sembilan puluh tempat, sementara kita
mempercayai perkataan pembohong hanya di satu tempat ?”
Dari sini
saudara – saudariku, yakinlah bahwa naik atau turunnya BBM dan harga –
harga tidak akan mengurangi atau menambah kekayaan kita.Semua sudah
ditakdirkan Allah Azza Wa Jalla.
KELIMA, adalah wajib bagi kita untuk bersabar dalam setiap kesulitan.
Ini sebagaimana yang diajarkan Nabi shalallahu alaihi wa sallam
:
عَجَباً لأمْرِ المُؤمنِ إنَّ أمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خيرٌ ولَيسَ ذلِكَ
لأَحَدٍ إلاَّ للمُؤْمِن : إنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكانَ خَيراً
لَهُ ، وإنْ أصَابَتْهُ ضرَاءُ صَبَرَ فَكانَ خَيْراً لَهُ
“Amat menakjubkan keadaan orang mu’min itu, sesungguhnya semua
keadaannya itu adalah merupakan kebaikan baginya dan kebaikan yang
sedemikian itu tidak akan ada lagi seorangpun melainkan hanya untuk
orang mu’min itu belaka. Apabila ia mendapatkan kelapangan hidup, iapun
bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan baginya. Apabila ia ditimpa
musibah, maka iapun bersabar dan hal inipun adalah merupakan kebaikan
baginya.” (HR. Muslim)
Dari sinilah keimanan kita diuji. Jika kita
bersabar, kita menunjukkan kualitas keimanan kita.Jika kita mengeluh,
apalagi sampai demo (semoga tidak ya..) maka kita perlu mengkoreksi
keimanan kita.
DAN TERAKHIR ,
renungan ini saya tutup dengan ucapan Asy Syaikh Muqbil bin Hadi
rahimahullah dalam salah satu pernyataan beliau yang masyhur :
"Siapa saja yang ingin duduk bersama para pendusta besar, maka hendaknya
ia baca koran-koran, apabila sedikit saja roti, gula, dan garam
berkurang maka mereka langsung mengkafirkan pemerintah. Namun ketika
pemerintah memenuhi keinginan mereka, justru bermuka dua sambil
memuji-muji : “Pemimpin kita adalah pemimpin yang mendapat petunjuk.”
Jadi
dari sini kita hendaknya menjauhi segala pemberitaan media massa yang
berpotensi membuat kita terprovokasi atau ikut – ikut menjelekkan
pemerintah. Biarlah media ngomong apa, yang penting kita katakan : “ BBM
mundhak, aku ra papa.”
Mungkin
sedikit renungan ini bisa mengobati segenap kekhawatiran kita tentang
kenaikan BBM ini. Ini hanya coret – coretan dari seorang yang faqir di
hadapan Allah, maka segenap koreksi dan masukan atas kesalahan tulis
sangat kami harapkan.
Wallahul Muwaffiq ila aqwamith thoriq.
Di tulis oleh saudara kami, Jarot Abu Mas'ud - afallahu anhu || di edit dan di posting ulang oleh admin blog

Tidak ada komentar:
Posting Komentar